Bulan Juni 2014, aku mengenal
seorang gadis desa sebelah ditempat pegajian saya pada acara dakwah perpisahan
menyambut bulan suci ramadhan. Ini merupakan suatu tradisi disetiap lembaga
pengajian di daerah kami. Acara dakwah ini digelar dengan tujuan refreshing
para santri dan memperluas syi’ar agama islam. Panitia dan para santri sedang
sibuk mengurus keperluan untuk acara bahkan ada juga yang sedang asyik
mendengar ceramah dari pendakwah yang telah diundang.
Tepat dibawah balai, saya duduk
dengan kawan – kawan saya sambil bercakap – cakap dan mendengar ceramah yang
disajikan. Sedang asyik mendengar ceramah, mataku tersentak kepada sosok wajah
yang sangat asing dimataku, aku belum pernah melihat dia selama hidupku. Tak bosan
– bosannya aku selalu memandang dia dengan penuh harap dia mau memandangku
walau sejenak. Satu jam sudah pencermah mengemukakan dakwahnya kepada seluruh
pengunjung dan sudah 30 menit aku terus menerus memandang seorang perempuan
yang belum aku kenal itu.
Aku terkejut dikala dia memandangku
diselang dengan sebuah senyuman indah yang seakan - akan membuat darahku
berhenti mengalir dan jantungku berhenti berdetak. Tapi sayang itu, moment
indah itu hanya berlangsung beberapa detik saja dan dia langsung memalingkan
wajahnya untuk menyimak pendakwah. Aku sangat gembira dikala itu, seakan lelah
yang tadi siang bergotong royong mempersiapkan segala sesuatu untuk acara malam
dalam sekejap sirna dalam senyuman indah yag barusaja kusaksikan. Aku mulai
senyum – senyum sendiri sampai – sampai disindir oleh kawan disampingku.
“ Paken kah teukhem – khem sidroe
? ( kenapa kamu senyum – senyum sendiri ? ) “. Tanya salah satu temanku.
“ Panena, hana saken pih. ( Enggak, enggak kenapa - napa kok ) “. Kilahku sambil tersenyum.
“ Beuleuhen bek pungoe bak duk –
duk nyan ! ( Hati – hati tuh jangan sampai dikira orang gila nanti ! ) “.
Sambungnya sambil tertawa mengejek.
“ hehehehe “. Aku hanya bisa
tertawa bersama mereka.
Tanpa dirasa, dua jam sudah penceramah
berpidato didepan orang banyak dan sekarang giliran penutup dan pembacaan doa,
darisitu tanpa henti – hentinya aku memandang dia seraya menengadahkan tangan
untuk berdoa kepada Allah bersama pencermah. Sambil penceramah memanjatkan
doanya, didalam hati ini juga ku berdoa agar bisa berkenalan lebih dekat lagi
dengan seorang gadis yang membuat hatiku tertegun tadi.
Setelah selesai menutup doa dan
para santri sibuk membereskan tenda – tenda untuk dikembalikan kegudang. Sambil
membantu yang lain membereskan semua ini, mataku selalu memandangnya untuk
mengetahui siapa wanita yang tadi aku lihat ? aku melihat dia berbincang –
bincang dengan seorang wanita yang sangat kukenal, ternyata dia adalah sepupu dari salah satu
santriwati tempat pengajian kami dan beliau juga merupakan kakak saya walaupun
kami mengaji dalam balai yang sama.
Sejak saat itu aku sering
menanyakan tentang dia pada kakak sepupunya itu supaya mau mengenalkan saya
kepada dia, sering juga kakaknya itu kesal karena saya hingga pada suatu ketika
dia memberi nama akun facebook gadis yang aku ceritakan saat ini. Disitulah
pertama kami berkenalan dan sampai saat ini kami masih sering berkomunikasi
melalu social media facebook.
Pembaca yang budiman, seperti
itulah kisah asmara yang sedang kurasakan ini dimulai, untuk kelanjutan dari
apa yang saya rasakan anda bisa membacanya di pos – pos yang lain nanti akan
saya tulis dengan baik. Mudah – mudahan anda terhibur. Terimakasih telah
berkunjung.

0 Komentar
Penulisan markup di komentar